Akses Internet Indonesia Masih Bagaikan “Sumber Air Sudekat” di Mata Jepang dan...

Akses Internet Indonesia Masih Bagaikan “Sumber Air Sudekat” di Mata Jepang dan Korsel

848

Seperti sumber mata air, akses internet Indonesia saat ini masih langka dan kecepatannya lemot! Lantas, sampai kapan?

Kreasitekno.com — Dalam konteks kekayaan alam maupun ragam budaya, Indonesia boleh saja berbangga dan mengklaim dirinya sebagai yang terbaik. Namun di sisi lain, sudah sejak lama Indonesia selalu tertinggal oleh beberapa negara maju khususnya dalam segi teknologi dan informasi. Sebut saja akses internet maupun berbagai layanan penyedia jasa telekomunikasi yang sedang kita nikmati saat ini, nilainya secara keseluruhan masih tergolong “jeblok” baik dari segi kecepatan, kualitas, hingga biaya operasionalnya. Tak usah membandingkan dengan negara digdaya seperti Amerika Serikat ataupun Rusia, lha wong perkembangan teknologi informasi negeri ini bahkan masih tampak menyedihkan di mata Jepang, Korea Selatan, ataupun Singapura, tetangga kita. Sudah akses internet Indonesia lemot, jaringannya putus-putus, harganya mahal pula.

akses internet indonesia

Mungkin bagi kalian yang pernah berkunjung ke Negeri Sakura ataupun Negeri K-Pop, pasti akan merasakan perbedaan yang sangat signifikan khususnya pada sisi kecepatan akses internet Indonesia. Bisa jadi pada beberapa hari pertama saat tahu betapa ngeri-nya akses internet di sana, orang-orang Indonesia akan tampak seperti “suku pedalaman” yang dengan buasnya mengunduh berbagai macam file berukuran besar semisal film, game, software, dan sejenisnya.

Onno W. Purbo, selaku Pakar Teknologi dan Informasi Indonesia telah memperkirakan jumlah populasi masyarakat yang melek internet masih baru sekitar 20% dari total penduduk secara keseluruhan. Beliau menyatakan bahwa ketersediaan internet di Indonesia masih sangat jauh dari cukup. Ini bisa dibuktikan dari betapa banyaknya rakyat yang belum ngerti apa itu internet.

Sementara itu PBB turut menerangkan bahwa akses internet merupakan salah satu hak asasi manusia. Statement tersebut secara tak langsung menjudge bahwa siapapun yang “membatasi” atau tidak bisa memberikan fasilitas internet dengan baik, maka berarti ia telah melanggar HAM. Ini juga berlaku bagi semua negara termasuk Indonesia yang notabene sebenarnya sangat berkecukupan untuk membiayai internet ke seluruh penjuru negeri. Lain lagi ceritanya jika ini terjadi pada negara miskin atau negara diktator semacam Korea Utara yang memang benar-benar “mengisolir dirinya”.

Onno mengatakan, pemerintah pernah menargetkan 50 persen warga Indonesia sudah menggunakan internet. Namun pada kenyataannya hingga kini masih belum tampak hasilnya. Ia berharap agar Kemenkominfo bisa segera meningkatkan penyebaran internet hingga ke desa dan pelosok.

akses internet indonesia

Sebenarnya ada cara alternatif untuk “mengakali” lambatnya penyebaran internet di Indonesia. Dalam penjelasannya, Onno mengungkapkan pandangannya mengenai pemanfaatan Open Base Transceiver Station, atau biasa disebut dengan OpenBTS. OpenBTS adalah sebuah perangkat BTS GSM berbasis software, yang memungkinkan pengguna ponsel untuk menelepon dan berinternet tanpa menggunakan jaringan operator seluler. Karena mudahnya cara pengoperasian serta bahan yang sangat terjangkau, OpenBTS pernah berhasil diterapkan di Wamena, Papua.

Hanya saja perangkat semacam ini masih ilegal sehingga tidak bisa disebarluaskan. Namun bagaimana dengan nasib bangsa ini jika penduduknya saja banyak sekali yang masih awam tentang internet?

SHARE

LEAVE A REPLY